Siswa Belajar Pacu Jalur hingga Membuat Washi Ningyou

Mahasiswa KKN Unri Padukan Budaya Kuansing dan Jepang

  • Kamis, 23 Juli 2026 - 15:40:33
  • Oleh admin

Riaupintar.com -- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Riau (Unri) Desa Bukit Kauman menghadirkan metode pembelajaran budaya yang memadukan kearifan lokal dan budaya internasional. Melalui program Belajar Budaya Lokal dan Jepang Melalui Edukasi dan Seni, puluhan siswa diajak mengenal budaya Kuantan Singingi sekaligus mempraktikkan pembuatan kerajinan tradisional Jepang washi ningyou.


Program tersebut dilaksanakan dalam dua tahap, yakni di SD Negeri 010 Bukit Kauman pada Rabu 15 Juli 2026 dan SMP Negeri 2 Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, pada Rabu 22 Juli 2026. Kegiatan menyasar siswa kelas IV SD serta siswa kelas VIII.1, VIII.2, dan IX.2 SMP dengan jumlah peserta sebanyak 65 orang.


Kegiatan digelar sebagai upaya meningkatkan pemahaman siswa terhadap budaya lokal maupun budaya internasional sejak dini. Mahasiswa KKN mengemas pembelajaran melalui kombinasi edukasi dan praktik seni agar materi lebih mudah dipahami dan menarik bagi peserta.


Pada sesi pertama, siswa diperkenalkan dengan berbagai tradisi, kesenian, dan identitas budaya Kuantan Singingi.


Penyampaian materi dilakukan secara interaktif melalui kuis yang mengajak peserta menebak nama budaya berdasarkan gambar maupun penjelasan singkat.


Mahasiswa mencatat antusiasme tinggi dari para siswa selama sesi berlangsung. Di SD Negeri 010 Bukit Kauman, sebagian besar peserta telah mengenal berbagai aktivitas budaya di daerahnya meski belum mengetahui nama sejumlah tradisi.


Sementara itu, siswa SMP Negeri 2 Kuantan Mudik mampu mengenali dan menyebutkan lebih banyak budaya lokal.


Usai membahas budaya daerah, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan budaya Jepang. Mahasiswa memperkenalkan sejumlah budaya populer Jepang, termasuk seni tradisional washi ningyou, yaitu boneka kertas yang dibuat melalui teknik melipat dan menyusun kertas bermotif.


Pada sesi praktik, mahasiswa menyediakan kertas origami bermotif sebagai bahan utama. Sementara siswa membawa perlengkapan sederhana seperti gunting, lem, penggaris, serta pensil atau pulpen untuk membantu proses pembuatan.


Mahasiswa kemudian mendampingi peserta membuat washi ningyou mulai dari mengukur dan memotong bagian kimono, obi, neckband, hingga sleeve. Setelah seluruh bagian dirangkai dan dilipat sesuai tahapan, siswa menyelesaikan boneka dengan memasang bagian rambut sehingga terbentuk karya bergaya Jepang.


Selama praktik berlangsung, mahasiswa memberikan pendampingan kepada setiap siswa agar seluruh proses berjalan dengan baik. Peserta juga diberi ruang untuk berkreasi melalui pemilihan motif dan penyusunan bagian boneka sesuai imajinasi masing-masing.


Penanggung Jawab Program Belajar Budaya Lokal dan Jepang Melalui Edukasi dan Seni Kelompok KKN Universitas Riau Desa Bukit Kauman Tahun 2026, Nuzul Putri Fitria, mengatakan antusiasme siswa terlihat sejak sesi pengenalan budaya hingga praktik kerajinan.


"Tanggapan siswa sangat baik. Mereka dapat mengenali budaya yang ada di sekitar mereka. Budaya yang paling banyak dikenali adalah Pacu Jalur karena mereka mengaku selalu bersemangat menyaksikan latihan maupun pelaksanaan event Pacu Jalur. Selain itu, mereka juga antusias saat membuat kerajinan washi ningyou, bahkan beberapa siswa berminat untuk menjadikannya sebagai gantungan kunci," ujarnya.


Apresiasi juga disampaikan Guru Seni Budaya SMP Negeri 2 Kuantan Mudik, Ratna Sari. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda karena menggabungkan pengenalan budaya dengan praktik berkarya.


"Kegiatan seperti ini membantu siswa untuk lebih mengenali dan memahami budaya lokal, kemudian belajar seni melipat yang melatih ketelitian dan kerapian siswa," katanya.


Melalui program ini, mahasiswa KKN Universitas Riau berharap siswa semakin peduli terhadap pelestarian budaya lokal sekaligus memiliki wawasan yang lebih luas mengenai budaya dari berbagai negara.


Dengan demikian, kecintaan terhadap identitas daerah dapat tumbuh seiring dengan terbukanya perspektif global. (*)

Berita Terkait

Populer