Siswa SDN 10 Linge Tinggalkan Tenda Setelah Berbulan-bulan Belajar Pascabanjir
Senin, 20 Juli 2026 - 17:15:38
Oleh admin
Riaupintar.com – Setelah berbulan-bulan mengikuti proses belajar mengajar di bawah tenda akibat banjir yang melanda Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, siswa SD Negeri 10 Linge akhirnya mulai merasakan suasana belajar yang lebih aman dan nyaman. Empat unit Ruang Kelas Darurat (RKD) yang dibangun di Desa Jamat resmi difungsikan sebagai ruang belajar sementara.
Peresmian penggunaan ruang kelas darurat tersebut ditandai dengan prosesi Tepung Tawar yang berlangsung pada Senin 20 Juli 2026. Kegiatan ini dihadiri para siswa, guru, perangkat desa, serta berbagai pihak yang terlibat dalam pembangunan fasilitas pendidikan darurat tersebut.
Hadirnya ruang kelas darurat menjadi angin segar bagi siswa yang sebelumnya harus belajar di bawah tenda dengan berbagai keterbatasan. Kini, mereka dapat mengikuti pembelajaran di ruang yang lebih layak sambil menunggu pembangunan kembali gedung sekolah permanen.
Sejak banjir menerjang wilayah Kecamatan Linge pada akhir 2025, kegiatan belajar mengajar di SDN 10 Linge terpaksa dipindahkan ke dua lokasi tenda darurat, yakni Tenda 01 di Desa Reje Payung dan Tenda 02 di Desa Jamat. Pembagian lokasi dilakukan untuk memudahkan akses siswa dari dua desa sekaligus mengurangi jarak tempuh menuju tempat belajar.
Dengan mulai difungsikannya empat unit RKD, seluruh siswa yang sebelumnya belajar di Tenda 01 kini telah berpindah ke ruang kelas darurat. Sementara itu, siswa yang masih berada di Tenda 02 tetap menjalani pembelajaran di bawah tenda sambil menunggu pembangunan ruang kelas darurat berikutnya.
Kepala SDN 10 Linge, Nurdin, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah membantu menghadirkan fasilitas belajar tersebut.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Kemendikdasmen, MDMC Muhammadiyah, Dinas Pendidikan Aceh, dan seluruh instansi terkait yang telah berkontribusi dalam pembangunan ruang kelas darurat ini," ujarnya.
Ia mengungkapkan, sekolah sebelumnya mengusulkan pembangunan tujuh unit RKD untuk siswa di Tenda 01 dan empat unit lagi untuk Tenda 02. Hingga kini, empat unit telah selesai dibangun dan dimanfaatkan oleh para siswa.
"Setidaknya anak-anak yang sebelumnya belajar di Tenda 01 sekarang dapat mengikuti pelajaran dengan lebih nyaman dibandingkan ketika masih berada di tenda," katanya.
Sementara itu, Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra terus memperkuat koordinasi dengan kementerian, pemerintah daerah, serta berbagai mitra untuk mempercepat pembangunan ruang kelas darurat bagi siswa di Tenda 02 agar seluruh peserta didik segera memperoleh fasilitas belajar yang aman dan layak.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa pemulihan sarana pendidikan menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk memastikan hak belajar anak-anak tetap terpenuhi meski berada di wilayah terdampak bencana.
"Kami berharap perbaikan sarana dan prasarana ini tidak hanya mengubah kondisi fisik bangunan sekolah, tetapi juga membangkitkan semangat belajar peserta didik dan mendorong peningkatan kualitas pendidikan," ujar Gogot.
Di sisi lain, Sekretariat Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Kemendikdasmen mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pemetaan kebutuhan Ruang Kelas Darurat di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sebagai tindak lanjut arahan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah agar tidak ada lagi sekolah terdampak bencana di Sumatra yang menyelenggarakan pembelajaran di bawah tenda.
Berdasarkan hasil pemetaan tahun 2026, kebutuhan RKD di tiga provinsi tersebut mencapai 343 unit yang tersebar di 106 satuan pendidikan. Hingga saat ini telah terpenuhi 313 unit di 89 satuan pendidikan, sehingga masih dibutuhkan 30 unit RKD untuk 17 satuan pendidikan, terdiri atas 14 PAUD, dua SD, dan satu SMP.
Pemerintah berharap percepatan pembangunan ruang kelas darurat dapat memastikan seluruh anak yang terdampak bencana kembali memperoleh haknya untuk belajar di lingkungan yang aman, nyaman, dan kondusif.**
Read more info "Siswa SDN 10 Linge Tinggalkan Tenda Setelah Berbulan-bulan Belajar Pascabanjir" on the next page :