Mengawali dengan Doa, Menjalani dengan Gembira: Cerita TKA di SMPN 2 Curug
Senin, 06 April 2026 - 19:24:58
Oleh admin
Riaupintar.com – Pelaksanaan tahap pertama Ujian Kemampuan Akademik (UKA) untuk tingkat SMP di SMP Negeri 2 Curug, Kabupaten Tangerang, berlangsung dalam suasana yang teratur, nyaman, dan menyenangkan. Para siswa terlihat bersemangat menjalani assesmen dengan tema “Jujur dan Gembira”, yang menjadi dorongan utama dalam pelaksanaan UKA.
Sebelum memasuki ruang ujian di setiap sesi, rasa kebersamaan sudah sangat kuat terasa. Siswa-siswi terlebih dahulu masuk ke dalam ruang transisi dan diajak untuk berdoa bersama, serta saling mendukung satu sama lain. Momen ini menciptakan suasana yang hangat dan menenangkan, sehingga siswa dapat memasuki ruang ujian dengan lebih percaya diri dan tanpa merasakan tekanan yang berlebihan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, yang langsung meninjau pelaksanaan UKA di sekolah tersebut, memberikan apresiasi terhadap suasana positif yang ada di lingkungan sekolah.
“Hari ini pelaksanaan UKA berlangsung dengan baik, suasananya teratur, dan yang paling penting, siswa dapat mengikuti dengan tenang dan gembira. Ini yang kita inginkan, sebuah asesmen yang tidak menegangkan namun tetap mempunyai makna,” kata Menteri Mu’ti pada Senin 6 April 2026.
Ia menekankan bahwa UKA disusun bukan untuk menjadi beban, melainkan sebagai bagian dari proses belajar siswa untuk mengevaluasi kemampuan akademik, literasi, numerasi, serta memahami karakter dan lingkungan belajarnya.
“Semangat ‘UKA Jujur dan Gembira’ ini krusial agar siswa tidak merasa terbebani. UKA bukan penentu kelulusan, tetapi alat untuk mengenali potensi diri,” tambahnya.
Dalam rangka menciptakan suasana belajar yang lebih positif, sekolah juga menghadirkan suasana UKA di area sekolah melalui penempatan poster-poster edukatif. Hal ini disampaikan oleh Kepala SMP Negeri 2 Curug, Purwaningsih, yang menjelaskan bahwa sekolah berupaya menciptakan atmosfer yang mendukung agar siswa dapat menjawab soal dengan tenang dan percaya diri.
“Beberapa poster dibuat oleh siswa sebagai bagian dari proses pembelajaran, dan sebagian lagi diambil dari sumber resmi. Ini kami pajang di lingkungan sekolah sebagai alat motivasi agar siswa semakin bersemangat menghadapi UKA,” jelas Purwaningsih.
Ia juga menambahkan bahwa sekolah menyediakan dukungan dalam berbagai bentuk, termasuk mengundang orang tua dan melakukan sosialisasi mengenai UKA kepada siswa, sehingga terjalin sinergi positif antara sekolah dan keluarga dalam mendukung kesiapan siswa.
“Kami tidak memberikan beban yang berlebihan kepada siswa. Justru kami mendorong mereka untuk terbiasa dengan tipe soal UKA dan menghadapinya dengan santai, tetapi tetap serius,” lanjutnya.
Dari perspektif siswa, atmosfer UKA yang tidak menegangkan dirasakan oleh para peserta. Salah satunya, Indy Calista Siahaan, yang menyatakan bahwa pelaksanaan UKA berjalan dengan lancar dan dapat diikuti dengan baik oleh semua siswa.
“Pelaksanaan hari ini berlangsung cukup smoothly. Saya dan teman-teman bisa menyelesaikan soal UKA tepat waktu pada sesi pertama,” ucapnya.
Selain itu, Indy juga merasakan pengalaman yang menyenangkan saat menjalani UKA, terutama karena dapat melihat langsung kehadiran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang memberikan motivasi kepada para siswa.
“Yang paling menyenangkan, saya bisa berkesempatan bertemu langsung dengan Pak Menteri,” ujarnya.
Indy juga berpendapat bahwa suasana lingkungan sekolah memberikan dampak positif bagi persiapan dirinya sebelum menghadapi ujian. “Lingkungan sekolah yang hijau membantu saya lebih santai dalam mempersiapkan diri sebelum mengikuti UKA,” ungkapnya.
Sementara itu, siswa lain, Rafli L. Arzaq yang mengikuti sesi kedua, menyatakan bahwa ia telah mempersiapkan diri untuk TKA sejak lama. “Saya merasa persiapan saya hampir siap karena saya telah belajar cukup intensif, termasuk mengikuti simulasi TKA. Saya juga lebih fokus pada matematika,” katanya.
Rafli mengungkapkan bahwa ia terdorong untuk belajar lebih serius. “Ada rasa takut yang muncul, tetapi saya mengubahnya menjadi motivasi. Jika ada materi yang saya belum kuasai, saya akan mempelajarinya lebih mendalam,” jelasnya.
Ia juga percaya diri dengan usaha yang telah dilakukannya untuk menghadapi TKA. “Berdasarkan upaya saya, saya sangat yakin dengan hasilnya,” tutup Rafli.**
Read more info "Mengawali dengan Doa, Menjalani dengan Gembira: Cerita TKA di SMPN 2 Curug" on the next page :
Pembelajaran yang terlalu berpusat pada guru juga dapat menyebabkan siswa menjadi pasif serta kurang termotivasi dalam mengikuti kegiatan belajar di kelas.